Sabtu, 04 Maret 2023

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.3 Pengelolaan Program yang Berdampak Positif pada Murid

 


        Refleksi dwi mingguan model 4F ( Fact, Feeling, Findings, Future) merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway. Dalam model refleksi 4F ini dapat diterjemahkan menjadi 4P yang terdiri dari Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Penerapan. Pada modul 3.3 yang saya dapatkan dalam mempelajari modul ini yaitu materi pengelolaan program yang berdampak pada murid.

     Dalam modul ini saya juga mempelajari kepemimpinan murid atau sering juga disebut student agency dimana murid mampu berperan sebagai pemimpin dalam pembelajarannya sendiri, murid diberikan kesempatan untuk dapat mengembangkan dirinya sehingga kapasitasnya dalam mengelola pembelajarannya sendiri dapat dimaksimalkan untuk menemukan potensi kepemimpinannya untuk selalu berkembang menjadi lebih baik.

   Pada saat murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran mereka sendiri, secara tidak langsung mereka memiliki suara (voice), pilihan (choice) dan kepemilikan (ownership), selain itu dalam modul ini juga terdapat materi tentang 7 karakteristik lingkungan yang mendukung dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid yang meliputi:

 1. Lingkungan yang menyediakan kesempatan murid untukmenggunakan pola pikir positif dan merasakan emosiyang positif

 2. Lingkungan yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana, dimana murid akan menjunjung tinggi nilai-nilai positif yang didasari dengan nilai-nilai kebajikan yang dibangun oleh sekolah

 3. Lingkungan yang melatih keterampilan yang dibutuhkanmurid dalam proses pencapaian tujuan akademik maupun nonakademik

 4. Lingkungan yang melatih murid untuk menerima dan memahami kekuatan diri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan disekitarnya

 5. Lingkungan yang membuka wawasan murid agar dapatmenentukan tujuan, harapan ataumimpi yang manfaat dan menindaklanjuti kebaikannya melampauipemenuhan kepentingan individu, kelompok maupungolongan

 6. Lingkungan yang menempatkan murid sebagai fokusnya sehingga terlibat aktif dalam proses belajarnya sendiri

 7. Lingkungan yang menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh murid untuk terus bangkit diberbagai kesempatan

   


   Perasaan yang saya rasakan setelah mempelajari modul 3.3 iniadalah sangat puas dan menyenangkan perasaan karena selain menambahilmu pengetahuan, wawasan secara tidak langsung merubah sudut pandangsebagai seorang pendidik bahwasannya murid seyogyanya diberikan kesempatan untukmengembangkan kapasitasnya dalam mengelolapembelajarannya sendiri sehingga potensikepemimpinan murid tersebut dapat muncul dan juga selalu berkembang lebihbaik.

 Setelah mempelajari modul 3.3 ini saya berusahasemaksimal mungkin untuk menerapkannya di sekolah saya sehingga dapat diterpakan dalam kehidupan sehari-hari,khususnya di kelas pada saat mata pelajaran Bahasa Inggris yang saya mampu untuk dapat memberikan perubahan awal. Selainmenerapkannya saya juga akan berbagi praktik tersebutterhadap rekan sejawat saya di sekolah tentang apa yangsaya pelajari sehingga kolaborasi terjalin dan kebersamaan untuk membangun sekolah sekolah yang berpusat pada murid dapat terwujud dengan usaha bersama-sama. 

Salam Guru Penggerak

 

 

 

 

Kamis, 16 Februari 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.1-Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin

 


Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Perkenalkan saya Afnidar Calon Guru Penggerak Angkatan 6 dari SMP Negeri 6 Langsa Propinsi Aceh. Pendidikan Guru Penggerak membawa perubahan besar dalam diri saya terutama dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Diawali oleh modul 1, 2, dan 3 (3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin). Materi-materi yang luar biasa saya dapatkan dari 2 modul sebelumnya. Selama menjalani Pendidikan Guru Penggerak ini saya dibimbing oleh fasilitator yaitu Ibu Elliza, yang luar biasa hebat, selalu membimbing, mengarahkan, memotivasi tiada bosannya dan Pengajar Praktik Ibu Maysarah yang sama luar biasanya dengan Ibu Elliza dalam memberikan motivasi, arahan, dan bimbingan demi kelanjutan pendidikan ini. Berikut Rangkuman Koneksi AntarMateri Modul 3.1-Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran berdasarkan 14 buah pertanyaan: 

1. Bagaimana pandangan Ki Hadjar Dewantara dengan Filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran diambil?

Jawaban:

Ki Hadjar Dewantara menjelaskan, terdapat 3 Pratap Triloka yaitu Ing Ngarso sung Tulodo (menjadi teladan/inspirasi). Seorang pemimpin (guru) haruslah memberikan teladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya. Seorang pemimpin haruslah mampu menarik partikel-partikel di sekitarnya untuk bisa diajak bersinergi mencapai sebuah visi sekolah. Ing Madyo Mangun Karso (menciptakan prakarsa dan ide), seorang pemimpin (guru) harus bisa bekerja sama dengan orang dididiknya (murid). Seorang pemimpin haruslah mampu mempererat hubungan antara guru dengan murid, namun tidak melanggar etika jalur pendidikan. Tut Wuri Handayani (memberi dorongan/semangat), seorang pemimpin (guru) harus bisa menjadi motivator atau pemberi semangat bagi anak didiknya (murid). Misalnya mendorong kinerja murid untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Sebagai pemimpin pembelajaran tentunya pengambilan keputusan yang diambil adalah keputusan yang tepat berpihak pada murid. Lingkungan belajar yang kondusif, positif, aman, dan nyaman akan memengaruhi pengambilan keputusan. Arah dan tujuan pembelajaran yang terencana juga memengaruhi pengambilan keputusan. Lebih baik lagi sebelum mengambil keputusan perlu dilakukan pengujian keputusan. Berdasarkan 3 prinsip, 4 paradigma, dan 9 langkah.

 

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Jawaban:

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid, ini sangat berpengaruh terhadap prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Dalam pengambilan suatu keputusan diperlukan keputusan yang tepat dan bertanggung jawab. Nilai Mandiri, ketika kita dihadapkan pada sebuah kasus yang mengharuskan kita bertindak dalam waktu yang tidak terlalu panjang, dadakan. Nilai Reflektif, ketika kita dihadapkan pada sebuah kasus yang harus kita cermati lebih dalam apa yang akan terjadi jika keputusan ini diambil? Dan apa pula yang akan terjadi jika keputusan itu diambil? Nilai Inovatif, ketika kita dihadapkan pada sebuah kasus yang mengharuskan kita jeli, lihai, mahir dalam mengambil suatu keputusan. Nilai Kolaboratif, ketika kita dihadapkan pada sebuah kasus yang perlu pertimbangan orang banyak. Bisa kepala sekolah, rekan sejawat, atau pihak terkait lainnya. Berpihak pada murid, tentunya keputusan yang akan diambil keputusan yang berpihak pada murid agar tidak ada yang dirugikan.

3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

 Jawaban:

Coaching adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA, kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan langkah konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan yang kita ambil.

Pembimbingan yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah keputusan tersebut sudah berpihak kepada murid, sudah sejalan dengan nilai-nilai kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut akan dapat saya pertanggung jawabkan.

TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar. Model TIRTA menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching, yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. TIRTA adalah satu model coaching yang diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini. TIRTA dikembangkan dari Model GROW. GROW adalah akronim dari Goal, Reality, Options dan Will.

Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,

Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,

Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.

Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.TIRTA akronim dari :

 : Tujuan

: Identifikasi

: Rencana aksi

TA: Tanggung jawab

Coaching menjadi salah satu proses menuntun kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah agar murid dapat mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya. Proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar. Dengan proses coaching murid dapat menemukan potensi dan mengembangkannya. Coaching yang sudah dilakukan pada modul 2 sebelumnya jika ditinjau dari coach menggali informasi dari coachee kemudian coachee menemukan solusi dari masalahnya sendiri sudah maksimal dilakukan. Namun, belum memuat 3 prinsip, 4 paradigma, dan 9 langkah pengambilan keputusan. Akan tetapi pada sesi coaching seorang coachee sudah mampu menggali potensinya dan itu sudah luar biasa.

 

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

 

Jawab :

Ketika guru dihadapkan pada sebuah situasi, guru diharuskan mengambil sebuah keputusan sementara kondisi sosial emosionalnya tidak dalam kondisi baik. Guru perlu melakukan Latihan Kesadaran Penuh (mindfullness) menggunakan teknik STOP dengan mengikuti langkah-langkah yang telah dibahas pada modul sebelumnya. Lakukan berulang agar kondisi guru kembali dalam keadaan baik. Jika hal tersebut sudah dilakukan, tentu saja guru mampu mengambil sebuah keputusan yang tepat.

 

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

 

Jawaban:

Seorang pendidik harus bisa mengetahui persoalan yang dihadapi dan juga bisa membedakan apakah permasalahan yang dihadapi merupakan bujukan moral atau dilema etika. Sebagai pendidik harus bisa memahami dan menjiwai nilai-nilai yang dianut yaitu nilai mandiri, nilai reflektif, nilai kolaboratif, nilai inovatif, dan berpihak pada murid. Kehadiran kelima nilai ini dalam diri pendidik sebagai bahan evaluasi dalam mengambil sebuah keputusan. Kita juga harus bisa mengidentifikasi masalah sebelum mengambil keputusan dengan cara harus menilainya dengan lebih saksama sehingga keputusan yang kita ambil sudah tepat.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman.

 

Pengambilan keputusan yang tepat tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang kondusif, positif, aman, dan nyaman. Untuk mencapai semua itu diperlukan ada perubahan yang mendasar dan upaya yang konsisten. Dengan demikian pengambilan keputusan yang tepat yaitu dengan membuat visi yang berdampak pada perkembangan murid. Sebagai pemimpin pembelajaran menjadi inisiator dalam mewujudkan budaya positif di sekolah yang berpihak pada murid. Dalam mewujudkan budaya positif ini pendidik memegang peranan sentral. Pendidik perlu mengambil keputusan yang tepat untuk mewujudkan budaya positif baik di lingkungan kelas maupu disekolah. Keputusan yang diambil untuk membangun budaya positif di sekolah dengan menyusun kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu pembentukan budaya positif kelas. Hal ini dapat membantu proses pembelajaran lebih mudah dan tidak menekan. Dengan demikian akan tercipta lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman, dan menyenangkan bagi murid.

7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Jawaban:

Dalam kehidupan sehari-hari kita pastinya pernah dihadapkan dengan situasi yang menuntut kita untuk mengambil suatu keputusan yang tepat apakah situasi dilema etika atau bujukan moral? Ada kesulitan yang dihadapi dalam mengambil suatu keputusan misalnya rasa khawatir akan keputusan yang diambil apakah sudah tepat atau keliru dalam pengambilan suatu keputusan? Rasa ragu akan penyesalan juga dirasakan ketika keputusan sudah diambil. Maka, sangat penting bagi kita untuk bisa mengidentifikasi pengujian paradigma benar lawan benar, terdapat 4 paradigma:

a. Individu lawan masyarakat (individual vs community)

b. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

c. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

d. Jangka pendek vs jangka panjang (short term vs long term)

 

8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Jawaban:

Sebagai pendidik sudah tepat bagi kita mengambil keputusan yang memberikan kemerdekaan terhadap belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pengajaran yang memerdekakan murid kita. Pengambilan keputusan menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah. Terlebih lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Jika keputusan yang kita ambil berpihak pada murid tentu saja secara tidak langsung telah memerdekakan murid-murid kita. Namun tetap berpegang pada prinsip, paradigma, dan langkah pengambilan keputusan.

Untuk memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda dapat dilakukan dengan mengambil keputusan dengan melaksanakan pembelajaran yang berdifferensiasi yang dapat mengakomodasi seluruh bakat, minat serta profil belajar siswa (gaya belajar).

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat memengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Jawaban:

Sebagai pemimpin pembelajaran keputusan yang kita ambil merupakan keputusan yang tepat yaitu keputusan yang menuntun segala kodrat pada murid, murid diberi kebebasan untuk berinovasi dan berkreativitas. Dalam menuntun seorang pendidik memberikan tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya, sehingga di masa depan akan terbentuk murid yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkebhinnekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif dalam mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar pancasilsa.

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya.

Jawaban:

Ki Hadjar Dewantara menjelaskan terdapat 3 Pratap Triloka yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani yang artinya di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.

Nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid harus tertanam dalam diri dan menjiwai nilai-nilai tersebut oleh seorang pendidik terlebih dalam mengambil sebuah keputusan.

Coaching menjadi salah satu proses menuntun kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah agar murid dapat mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan potensinya.

Pengambilan keputusan yang tepat yaitu dengan membuat visi yang berdampak pada perkembangan murid. Sebagai pemimpin pembelajaran menjadi inisiator dalam mewujudkan budaya positif di sekolah. Dalam mewujudkan budaya positif ini pendidik memegang peranan sentral.

 

11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

 

Jawaban :

Berdasarkan apa yang sudah saya pelajari di modul 3.1 saya mampu membedakan antara diema etika dan bujukan moral. Dimana dilemma etika merupakan situasi dimana terjadi pertentangan dua kebenaran  atau  benar vs benar, sementara bujukan moral adalah situasi dimana terjadi sebuah pertentangan benar lawan salah, sehingga saya menyadari benang merah antara keduanya. Hal yang tidak terduga adalah pada saat awal saya mempelajari dilemma etika, saya merasa terjebak dalam menentukan sebuah kasus  antara bujukan moral dan dilema etika, malahan ada kasus diema etika yang saya kategorikan bujukan moral, sehingga saya merasa keputusan saya selama ini yang buat sebelum mempelajari modul ini cenderung kaku atau hanya berbasis peraturan sehingga saya merasa untuk melenceng dari aturan itu sulit. Keetika mempelajari dilema etika saya merasa, ada kalanya kita perlu melenceng dari aturan untuk kemaslahatan yang lebih besar, sehingga paradigma pengambilan keputusan dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan diema etika sangatlah penting dilakukan. Begitu pula 9 langkah pengambilan dna pengujian keputusan adalah langkah yang sangat runut dan terarah yang sangat berguna dalam mengambil keputusan dan menguji keputusan yang saya ambil.

 

Empat paradigma pengambilan keputusan  yaitu

  • Individu lawan masyarakat (individual vs community)
  • Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
  • Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
  • Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Pentingnya mengidentifikasi paradigma ini, bukan hanya mengelompokkan permasalahan, namun membawa penajaman bahwa situasi yang saya hadapi betul- betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

 Saya juga sudah memahami tentang tiga prinsip pengambilan keputusan yang terdiri atas 3 prinsip yaitu

  1. Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  2. Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  3. Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Konsep lain yang sangat penting adalah 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Saya merasa langkah ini sangat penting untuk memantapkan keputusan yang saya ambil, jika saya sudah melakukan 9 uji ini maka saya bisa memastikan keputusan saya efektif. Menurut saya, 9 langkah ini sangat detail dan terstruktur dan juga memudahkan dalam mengambil keputusan karena runut dan terpola dengan baik

9 langkah tersebut adalah

Langkah 1: Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.

Langkah 2: Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini 

Langkah 3: Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini

Langkah 4: Pengujian benar atau salah, yang terdiri atas:

  1. Uji Legal
    menyangkut aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka pilihan yang ada bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar lawan salah. Pilihannya menjadi membuat keputusan yang mematuhi hukum atau tidak, bukannya keputusan yang berhubungan dengan moral.
  2. Uji Regulasi/Standar Profesional
    Berhubungan dengan pelanggaran peraturan atau kode etik.
  3. Uji Intuisi
    Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Uji intuisi ini akan mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan nilai-nilai yang Anda yakini. 
  4. Uji Halaman  Depan Koran
    Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman depan dari koran dan sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda tiba-tiba menjadi konsumsi masyarakat? Bila Anda merasa tidak nyaman membayangkan hal itu akan terjadi, kemungkinan besar Anda sedang menghadapi bujukan moral atau benar lawan salah. 
  5. Uji Panutan/Idola 
    Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh seseorang yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini fokusnya bukanlah pada ibu Anda, namun keputusan apa yang kira-kira akan beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang yang sangat berarti bagi Anda. 

Langkah 5: Pengujian Paradigma Benar lawan Benar 

Mengidentifikasi paradigm sanagt penting karena, ini bukan hanya an permasalahan namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa situasi ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang sama-sama penting.

Langkah 6: Melakukan Prinsip Resolusi , yang terdiri dari 3 prinsip berpikir yaitu:

  • Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
  • Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
  • Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Langkah 7: Investigasi Opsi Trilema 

Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian yang kreatif dan  tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah.

Langkah 8: Buat Keputusan

Langkah 9, Tinjau lagi keputusan dan refleksikan

 

 

12.Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

 Jawaban:

Sebelum mempelajari modul ini, saya pernah mengalami masalah yng berhubungan dengan dilemma etika. Keputusan yang saya mbil pada saat itu sering berdasarkan intuisi saya atau berdasarkan nilai-nilai yang saya pegang dan juga berdasarkan kepedulian kepada orang lain. Sehingga ketika saya mempelajari modul 3.1, saya merasa care based thinking adalah sebagai sebuah prinsip yang diapakai secara umum dalam mengambil keputusan terutama yang berhubungan dengan  masalah dilemma etika.

Sedangkan untuk kasus bujukan moral atau moral dilema, saya pernah berada dalam situasi tersebut, namun ketika itu terjadi saya berusaha mengambil keputusan dengan memikirkan dan menganalisis salah dan benar dari situasi yang saya hadapi dan saya mengambil keputusan dengan meminta secpnd opinion dari teman sejawat ataupun keluarga yang saya anggap lebih berpengalaman aytau sebagai panutan saya. Walaupun langkah pengambilan keputusan saya tidak sama persis seperti konsep yang saya pelajari di modul namun ada usur kesamaan yaitu menganalisis unsur kebenaran lawan kesalahan dan juga uji panutan atau idola.

 13.Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Jawaban: 

Dampak yang saya rasakan setelah mempelajari modul 3.1 ini saya merasakan lebih percaya diri  dalam mengambil keputusan terutama sebagai pemimpin pembelajaran, saya lebih percaya diri karena bisa memastkan keputusan yang saya ambil tepat atau efektif karena sudah melalui proses pengujian keputusan yang terdiri dari 9 angkah tersebut, walaupun saya juga harus tetap beajar dan sharing kepada teman sejawat yang sudah berpengalaman untuk memastikan keputusan saya sesuai atau keputusan saya tersebut tepat. 

Saya juga merasakan mendapat pengetahun yang berharga terutama sebagai individu dalam memandang permasalahn yang saya hadapi.

 

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Jawaban:

Menurut saya pengetahuan  tentang pengambilan keputusan ini sangat penting bagi saya sehingga saya bisa mengambil keputusan yang tepat dan efektif, serta tidak gegabah dalam mengambil keputusan baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin pembelajaran di sekolah. Sebelum saya mendapat pengetahuan tentang pengambilan keputusan ini saya merasa bahwa banyak hal atau keputusan yang saya buat selama ini tidak berdasar alur pemikiran yang jelas dan terstruktur, sehingga setelah mendapat materi di modul 3.1 mengenal bagaimana prinsip pengambilan keputusan yang tepat, pola pengambilan keputusan serta membedakan antara dilema etika dan bujukan moral serta penggunaan 9 langkah pengambilan keputusan, membuat saya semakin mantap dan percaya diri untuk bisa mengambil keputusan yang tepat. Walaupun saya harus lebih banyak lagi berlatih lagi dan belajar untuk melatih kemampuan pengambilan keputusan ini dan menerapkan ilmu yang sudah saya peroleh tapi saya sangat bersyukur bisa mendapatkan pengetahuan bagaimana orang-orang hebat mengambil keputusan yang tepat.