Assalammualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh,
Perkenalkan saya
Afnidar Calon Guru Penggerak Angkatan 6 dari SMP Negeri 6 Langsa Propinsi Aceh.
Pendidikan Guru Penggerak membawa perubahan besar dalam diri saya terutama
dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Diawali oleh modul 1, 2, dan 3 (3.1
Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin).
Materi-materi yang luar biasa saya dapatkan dari 2 modul sebelumnya. Selama
menjalani Pendidikan Guru Penggerak ini saya dibimbing oleh fasilitator yaitu
Ibu Elliza, yang luar biasa hebat, selalu membimbing, mengarahkan, memotivasi
tiada bosannya dan Pengajar Praktik Ibu Maysarah yang sama luar biasanya dengan
Ibu Elliza dalam memberikan motivasi, arahan, dan bimbingan demi kelanjutan
pendidikan ini. Berikut Rangkuman Koneksi AntarMateri Modul 3.1-Pengambilan
Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran berdasarkan 14 buah pertanyaan:
1. Bagaimana pandangan Ki Hadjar
Dewantara dengan Filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana
sebuah pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran diambil?
Jawaban:
Ki Hadjar Dewantara
menjelaskan, terdapat 3 Pratap Triloka yaitu Ing
Ngarso sung Tulodo (menjadi teladan/inspirasi). Seorang pemimpin
(guru) haruslah memberikan teladan yang baik bagi orang yang dipimpinnya.
Seorang pemimpin haruslah mampu menarik partikel-partikel di sekitarnya untuk
bisa diajak bersinergi mencapai sebuah visi sekolah. Ing Madyo Mangun Karso
(menciptakan prakarsa dan ide), seorang pemimpin (guru) harus bisa bekerja sama
dengan orang dididiknya (murid). Seorang pemimpin haruslah mampu mempererat
hubungan antara guru dengan murid, namun tidak melanggar etika jalur
pendidikan. Tut Wuri
Handayani (memberi dorongan/semangat), seorang pemimpin (guru)
harus bisa menjadi motivator atau pemberi semangat bagi anak didiknya (murid).
Misalnya mendorong kinerja murid untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Sebagai
pemimpin pembelajaran tentunya pengambilan keputusan yang diambil adalah
keputusan yang tepat berpihak pada murid. Lingkungan belajar yang kondusif,
positif, aman, dan nyaman akan memengaruhi pengambilan keputusan. Arah dan
tujuan pembelajaran yang terencana juga memengaruhi pengambilan keputusan.
Lebih baik lagi sebelum mengambil keputusan perlu dilakukan pengujian
keputusan. Berdasarkan 3 prinsip, 4 paradigma, dan 9 langkah.
2. Bagaimana
nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip
yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Jawaban:
Nilai-nilai yang
tertanam dalam diri kita seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif,
serta berpihak pada murid, ini sangat berpengaruh terhadap prinsip-prinsip yang
kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan. Dalam pengambilan suatu keputusan
diperlukan keputusan yang tepat dan bertanggung jawab. Nilai Mandiri, ketika
kita dihadapkan pada sebuah kasus yang mengharuskan kita bertindak dalam waktu
yang tidak terlalu panjang, dadakan. Nilai Reflektif, ketika kita dihadapkan
pada sebuah kasus yang harus kita cermati lebih dalam apa yang akan terjadi
jika keputusan ini diambil? Dan apa pula yang akan terjadi jika keputusan itu
diambil? Nilai Inovatif, ketika kita dihadapkan pada sebuah kasus yang
mengharuskan kita jeli, lihai, mahir dalam mengambil suatu keputusan. Nilai
Kolaboratif, ketika kita dihadapkan pada sebuah kasus yang perlu pertimbangan
orang banyak. Bisa kepala sekolah, rekan sejawat, atau pihak terkait lainnya.
Berpihak pada murid, tentunya keputusan yang akan diambil keputusan yang
berpihak pada murid agar tidak ada yang dirugikan.
3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan
kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau
fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian
pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan
tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas
pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’
yang telah dibahas pada sebelumnya.
Jawaban:
Coaching
adalah ketrampilan yang sangat penting dalam menggali suatu masalah yang
sebenarnya terjadi baik masalah dalam diri kita maupun masalah yang dimiliki
orang lain. Dengan langkah coaching TIRTA,
kita dapat mengidentifikasi masalah apa yang sebenarnya terjadi dan membuat
pemecahan masalah secara sistematis. Konsep coaching TIRTA sangat ideal apaila dikombinasikan dengan sembilan langkah
konsep pengambilan dan pengujian keputusan sebagai evaluasi terhadap keputusan
yang kita ambil.
Pembimbingan
yang telah dilakukan oleh pendamping praktik dan fasilitator telah membantu
saya berlatih mengevaluasi keputusan yang telah saya ambil. Apakah keputusan
tersebut sudah berpihak kepada murid, sudah sejalan dengan nilai-nilai
kebajikan universal dan apakah keputusan yang saya ambil tersebut akan dapat
saya pertanggung jawabkan.
TIRTA merupakan model coaching
yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar. Model TIRTA menuntut guru
untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan
coaching, yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih
merdeka. TIRTA adalah
satu model coaching yang diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak
saat ini. TIRTA dikembangkan dari
Model GROW. GROW adalah
akronim dari Goal,
Reality, Options dan Will.
Goal (Tujuan): coach perlu
mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,
Reality (Hal-hal yang nyata):
proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,
Options (Pilihan): coach membantu
coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya
akan dijadikan sebuah rancangan aksi.
Will (Keinginan untuk maju):
komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.TIRTA akronim
dari :
T : Tujuan
I : Identifikasi
R : Rencana aksi
TA: Tanggung jawab
Coaching menjadi salah
satu proses menuntun kemerdekaan belajar murid dalam pembelajaran di sekolah.
Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan di sekolah agar murid
dapat mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan pembelajaran dan memaksimalkan
potensinya. Proses coaching dapat menjadi salah satu langkah tepat bagi guru
untuk membantu murid mencapai tujuannya yaitu kemerdekaan dalam belajar. Dengan
proses coaching murid dapat menemukan potensi dan mengembangkannya. Coaching
yang sudah dilakukan pada modul 2 sebelumnya jika ditinjau dari coach menggali
informasi dari coachee kemudian coachee menemukan solusi dari masalahnya
sendiri sudah maksimal dilakukan. Namun, belum memuat 3 prinsip, 4 paradigma,
dan 9 langkah pengambilan keputusan. Akan tetapi pada sesi coaching seorang
coachee sudah mampu menggali potensinya dan itu sudah luar biasa.
4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari
aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan
khususnya masalah dilema etika?
Jawab
:
Ketika
guru dihadapkan pada sebuah situasi, guru diharuskan mengambil sebuah keputusan
sementara kondisi sosial emosionalnya tidak dalam kondisi baik. Guru perlu
melakukan Latihan Kesadaran Penuh (mindfullness)
menggunakan teknik STOP dengan mengikuti langkah-langkah yang telah dibahas
pada modul sebelumnya. Lakukan berulang agar kondisi guru kembali dalam keadaan
baik. Jika hal tersebut sudah dilakukan, tentu saja guru mampu mengambil sebuah
keputusan yang tepat.
5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah
moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Jawaban:
Seorang pendidik harus
bisa mengetahui persoalan yang dihadapi dan juga bisa membedakan apakah
permasalahan yang dihadapi merupakan bujukan moral atau dilema etika. Sebagai
pendidik harus bisa memahami dan menjiwai nilai-nilai yang dianut yaitu nilai
mandiri, nilai reflektif, nilai kolaboratif, nilai inovatif, dan berpihak pada
murid. Kehadiran kelima nilai ini dalam diri pendidik sebagai bahan evaluasi
dalam mengambil sebuah keputusan. Kita juga harus bisa mengidentifikasi masalah
sebelum mengambil keputusan dengan cara harus menilainya dengan lebih saksama
sehingga keputusan yang kita ambil sudah tepat.
6.
Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya
lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman.
Pengambilan keputusan
yang tepat tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang kondusif,
positif, aman, dan nyaman. Untuk mencapai semua itu diperlukan ada perubahan
yang mendasar dan upaya yang konsisten. Dengan demikian pengambilan keputusan
yang tepat yaitu dengan membuat visi yang berdampak pada perkembangan murid.
Sebagai pemimpin pembelajaran menjadi inisiator dalam mewujudkan budaya positif
di sekolah yang berpihak pada murid. Dalam mewujudkan budaya positif ini
pendidik memegang peranan sentral. Pendidik perlu mengambil keputusan yang
tepat untuk mewujudkan budaya positif baik di lingkungan kelas maupu disekolah.
Keputusan yang diambil untuk membangun budaya positif di sekolah dengan
menyusun kesepakatan kelas. Kesepakatan kelas yang efektif dapat membantu
pembentukan budaya positif kelas. Hal ini dapat membantu proses pembelajaran
lebih mudah dan tidak menekan. Dengan demikian akan tercipta lingkungan yang
positif, kondusif, aman, dan nyaman, dan menyenangkan bagi murid.
7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat
menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah
kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Jawaban:
Dalam kehidupan
sehari-hari kita pastinya pernah dihadapkan dengan situasi yang menuntut kita
untuk mengambil suatu keputusan yang tepat apakah situasi dilema etika atau
bujukan moral? Ada kesulitan yang dihadapi dalam mengambil suatu keputusan
misalnya rasa khawatir akan keputusan yang diambil apakah sudah tepat atau
keliru dalam pengambilan suatu keputusan? Rasa ragu akan penyesalan juga
dirasakan ketika keputusan sudah diambil. Maka, sangat penting bagi kita untuk
bisa mengidentifikasi pengujian paradigma benar lawan benar, terdapat 4
paradigma:
a. Individu lawan
masyarakat (individual
vs community)
b. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice
vs mercy)
c. Kebenaran lawan
kesetiaan (truth vs
loyalty)
d. Jangka pendek vs
jangka panjang (short
term vs long term)
8. Apakah
pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang
memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat
untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Jawaban:
Sebagai pendidik sudah
tepat bagi kita mengambil keputusan yang memberikan kemerdekaan terhadap
belajar murid dalam pembelajaran di sekolah. Hal ini sangat berpengaruh
terhadap pengajaran yang memerdekakan murid kita. Pengambilan keputusan menjadi
proses yang sangat penting dilakukan di sekolah. Terlebih lingkungan yang
positif, kondusif, aman, dan nyaman. Jika keputusan yang kita ambil berpihak
pada murid tentu saja secara tidak langsung telah memerdekakan murid-murid
kita. Namun tetap berpegang pada prinsip, paradigma, dan langkah pengambilan
keputusan.
Untuk memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang
berbeda-beda
dapat dilakukan dengan mengambil keputusan dengan melaksanakan pembelajaran
yang berdifferensiasi yang dapat mengakomodasi seluruh bakat, minat serta
profil belajar siswa (gaya belajar).
9. Bagaimana
seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat memengaruhi
kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Jawaban:
Sebagai pemimpin
pembelajaran keputusan yang kita ambil merupakan keputusan yang tepat yaitu
keputusan yang menuntun segala kodrat pada murid, murid diberi kebebasan untuk
berinovasi dan berkreativitas. Dalam menuntun seorang pendidik memberikan
tuntunan dan arahan agar murid tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya,
sehingga di masa depan akan terbentuk murid yang beriman, bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berkebhinnekaan global, gotong royong, mandiri,
bernalar kritis, dan kreatif dalam mewujudkan merdeka belajar dan profil
pelajar pancasilsa.
10. Apakah
kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan
keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya.
Jawaban:
Ki Hadjar Dewantara
menjelaskan terdapat 3 Pratap Triloka yaitu Ing
Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani yang
artinya di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, di belakang
memberi dorongan.
Nilai mandiri,
reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid harus tertanam dalam
diri dan menjiwai nilai-nilai tersebut oleh seorang pendidik terlebih dalam
mengambil sebuah keputusan.
Coaching menjadi salah satu proses menuntun kemerdekaan belajar murid dalam
pembelajaran di sekolah. Coaching menjadi proses yang sangat penting dilakukan
di sekolah agar murid dapat mengeksplorasi diri guna mencapai tujuan
pembelajaran dan memaksimalkan potensinya.
Pengambilan keputusan
yang tepat yaitu dengan membuat visi yang berdampak pada perkembangan murid.
Sebagai pemimpin pembelajaran menjadi inisiator dalam mewujudkan budaya positif
di sekolah. Dalam mewujudkan budaya positif ini pendidik memegang peranan
sentral.
11. Sejauh mana
pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini,
yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3
prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian
keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Jawaban :
Berdasarkan apa yang sudah saya pelajari di modul 3.1 saya
mampu membedakan antara diema etika dan bujukan moral. Dimana dilemma etika
merupakan situasi dimana terjadi pertentangan dua kebenaran atau
benar vs benar, sementara bujukan moral adalah situasi dimana terjadi sebuah
pertentangan benar lawan salah, sehingga saya menyadari benang merah antara
keduanya. Hal yang tidak terduga adalah pada saat awal saya mempelajari dilemma
etika, saya merasa terjebak dalam menentukan sebuah kasus antara bujukan
moral dan dilema etika, malahan ada kasus diema etika yang saya kategorikan
bujukan moral, sehingga saya merasa keputusan saya selama ini yang buat sebelum
mempelajari modul ini cenderung kaku atau hanya berbasis peraturan sehingga
saya merasa untuk melenceng dari aturan itu sulit. Keetika mempelajari dilema
etika saya merasa, ada kalanya kita perlu melenceng dari aturan untuk
kemaslahatan yang lebih besar, sehingga paradigma pengambilan keputusan dalam
mengambil keputusan yang berhubungan dengan diema etika sangatlah penting
dilakukan. Begitu pula 9 langkah pengambilan dna pengujian keputusan adalah
langkah yang sangat runut dan terarah yang sangat berguna dalam mengambil
keputusan dan menguji keputusan yang saya ambil.
Empat paradigma pengambilan keputusan yaitu
- Individu lawan masyarakat (individual vs community)
- Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)
- Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)
- Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long
term)
Pentingnya mengidentifikasi paradigma ini, bukan hanya
mengelompokkan permasalahan, namun membawa penajaman bahwa situasi yang saya
hadapi betul- betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan yang
sama-sama penting.
Saya juga sudah memahami tentang tiga prinsip
pengambilan keputusan yang terdiri atas 3 prinsip yaitu
- Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
- Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
- Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Konsep lain yang sangat penting adalah 9 langkah pengambilan
dan pengujian keputusan. Saya merasa langkah ini sangat penting untuk
memantapkan keputusan yang saya ambil, jika saya sudah melakukan 9 uji ini maka
saya bisa memastikan keputusan saya efektif. Menurut saya, 9 langkah ini sangat
detail dan terstruktur dan juga memudahkan dalam mengambil keputusan karena
runut dan terpola dengan baik
9 langkah tersebut adalah
Langkah 1:
Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang saling bertentangan dalam situasi ini.
Langkah 2:
Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini
Langkah 3:
Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini
Langkah 4:
Pengujian benar atau salah, yang terdiri atas:
- Uji Legal
menyangkut aspek pelanggaran hukum. Bila jawabannya adalah iya, maka
pilihan yang ada bukanlah antara benar lawan benar, namun antara benar
lawan salah. Pilihannya menjadi membuat keputusan yang mematuhi hukum atau
tidak, bukannya keputusan yang berhubungan dengan moral. - Uji Regulasi/Standar Profesional
Berhubungan dengan pelanggaran peraturan atau kode etik. - Uji Intuisi
Langkah ini mengandalkan tingkatan perasaan dan intuisi Anda dalam
merasakan apakah ada yang salah dengan situasi ini. Uji intuisi ini akan
mempertanyakan apakah tindakan ini sejalan atau berlawanan dengan
nilai-nilai yang Anda yakini. - Uji Halaman Depan Koran
Apa yang Anda akan rasakan bila keputusan ini dipublikasikan pada halaman
depan dari koran dan sesuatu yang Anda anggap merupakan ranah pribadi Anda
tiba-tiba menjadi konsumsi masyarakat? Bila Anda merasa tidak nyaman
membayangkan hal itu akan terjadi, kemungkinan besar Anda sedang
menghadapi bujukan moral atau benar lawan salah. - Uji Panutan/Idola
Dalam langkah ini, Anda akan membayangkan apa yang akan dilakukan oleh
seseorang yang merupakan panutan Anda, misalnya ibu Anda. Tentunya di sini
fokusnya bukanlah pada ibu Anda, namun keputusan apa yang kira-kira akan
beliau ambil, karena beliau adalah orang yang menyayangi Anda dan orang
yang sangat berarti bagi Anda.
Langkah 5:
Pengujian Paradigma Benar lawan Benar
Mengidentifikasi paradigm sanagt penting karena, ini bukan
hanya an permasalahan namun membawa penajaman pada fokus kenyataan bahwa
situasi ini betul-betul mempertentangkan antara dua nilai-nilai inti kebajikan
yang sama-sama penting.
Langkah 6:
Melakukan Prinsip Resolusi , yang terdiri dari 3 prinsip berpikir yaitu:
- Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)
- Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)
- Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)
Langkah 7:
Investigasi Opsi Trilema
Mencari opsi yang ada di antara 2 opsi. Apakah ada cara
untuk berkompromi dalam situasi ini. Terkadang akan muncul sebuah penyelesaian
yang kreatif dan tidak terpikir sebelumnya yang bisa saja muncul di
tengah-tengah kebingungan menyelesaikan masalah.
Langkah 8:
Buat Keputusan
Langkah 9, Tinjau lagi
keputusan dan refleksikan
12.Sebelum
mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai
pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa
yang Anda pelajari di modul ini?
Jawaban:
Sebelum mempelajari
modul ini, saya pernah mengalami masalah yng berhubungan dengan dilemma etika.
Keputusan yang saya mbil pada saat itu sering berdasarkan intuisi saya atau
berdasarkan nilai-nilai yang saya pegang dan juga berdasarkan kepedulian kepada
orang lain. Sehingga ketika saya mempelajari modul 3.1, saya merasa care based
thinking adalah sebagai sebuah prinsip yang diapakai secara umum dalam
mengambil keputusan terutama yang berhubungan dengan masalah dilemma
etika.
Sedangkan untuk kasus
bujukan moral atau moral dilema, saya pernah berada dalam situasi tersebut,
namun ketika itu terjadi saya berusaha mengambil keputusan dengan memikirkan
dan menganalisis salah dan benar dari situasi yang saya hadapi dan saya
mengambil keputusan dengan meminta secpnd opinion dari teman sejawat ataupun
keluarga yang saya anggap lebih berpengalaman aytau sebagai panutan saya.
Walaupun langkah pengambilan keputusan saya tidak sama persis seperti konsep
yang saya pelajari di modul namun ada usur kesamaan yaitu menganalisis unsur
kebenaran lawan kesalahan dan juga uji panutan atau idola.
13.Bagaimana
dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi
pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti
pembelajaran modul ini?
Jawaban:
Dampak yang saya
rasakan setelah mempelajari modul 3.1 ini saya merasakan lebih percaya
diri dalam mengambil keputusan terutama sebagai pemimpin pembelajaran,
saya lebih percaya diri karena bisa memastkan keputusan yang saya ambil tepat
atau efektif karena sudah melalui proses pengujian keputusan yang terdiri dari
9 angkah tersebut, walaupun saya juga harus tetap beajar dan sharing kepada
teman sejawat yang sudah berpengalaman untuk memastikan keputusan saya sesuai
atau keputusan saya tersebut tepat.
Saya juga merasakan
mendapat pengetahun yang berharga terutama sebagai individu dalam memandang
permasalahn yang saya hadapi.
14.
Seberapa
penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda
sebagai seorang pemimpin?
Jawaban:
Menurut saya
pengetahuan tentang pengambilan keputusan ini sangat penting bagi saya
sehingga saya bisa mengambil keputusan yang tepat dan efektif, serta tidak
gegabah dalam mengambil keputusan baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin
pembelajaran di sekolah. Sebelum saya mendapat pengetahuan tentang pengambilan
keputusan ini saya merasa bahwa banyak hal atau keputusan yang saya buat selama
ini tidak berdasar alur pemikiran yang jelas dan terstruktur, sehingga setelah
mendapat materi di modul 3.1 mengenal bagaimana prinsip pengambilan keputusan
yang tepat, pola pengambilan keputusan serta membedakan antara dilema etika dan
bujukan moral serta penggunaan 9 langkah pengambilan keputusan, membuat saya
semakin mantap dan percaya diri untuk bisa mengambil keputusan yang tepat.
Walaupun saya harus lebih banyak lagi berlatih lagi dan belajar untuk melatih
kemampuan pengambilan keputusan ini dan menerapkan ilmu yang sudah saya peroleh
tapi saya sangat bersyukur bisa mendapatkan pengetahuan bagaimana orang-orang
hebat mengambil keputusan yang tepat.